Semua Masyarakat Desa Wolowea Miliki Jamban

69905830 730967397357528 5295535852372361216 n69745043 730967457357522 6126973853668212736 n69731604 730967434024191 1822383425743486976 n69494096 730967544024180 5947826932346257408 n

 

Humas Kabupaten Nagekeo
5 September pukul 16.30

Pemukulan Gong oleh Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, hari ini (5 September 2019) di Aula Kantor Desa Wolowea Kecamatan Boawae menandai diresmikannya desa tersebut sebagai desa kelima yang dinyatakan telah bebas dari perilaku buang air besar sembarangan. Kegiatan ini disaksikan oleh seluruh masyarakat dan para pejabat dari perangkat beberapa daerah terkait.

Sebelumnya, Sekretaris Desa Wolowea, Ansimus Meo Ngengo, selaku ketua panitia, melaporkan bahwa berkat proses pemicuan dan pemantauan terus-menerus, perilaku higienis dan sanitasi warga telah berubah. Lebih jauh Sekdes Ansi menguraikan bahwa alasan kegiatan ini dilaksanakan adalah 100 % KK (Kepala Keluarga) telah telah memiliki jamban yang didukung dengan ketersediaan sarana air bersih dari program Pamsimas.

Sementara Fransiskus Podo, Kepala Desa Wolowea, dalam sambutannya menjelaskan bahwa dari aspek kepemilikan jamban, perilaku hidup sehat warganya meningkat dalam kurun waktu yang relatif singkat.

“Pada tanggal 17 September 2018, masih terdapat 11 KK yang belum memiliki jamban, berkat proses pemicuan yang menimbulkan kesadaran dan rasa malu, dalam tempo kurang dari satu bulan, semuanya telah memilikinya, ”ungkapnya.

Menurutnya, Desa Wolowea saat ini memiliki penduduk sebanyak 1225 jiwa yang tersebar di 245 KK dan 210 rumah tangga. Dari hasi verifikasi, ditemukan bahwa 1079 jiwa menggunakan jenis jamban leher angsa, sisanya masih berupa plengsengan. Ia pun berkomitmen terus mengajak mereka untuk secara bertahap menegakkan pilar-pilar STBM.

Bupati Don dalam arahannya mengajak masyarakat agar meningkatkan derajad kesehatan melalui perbaikan kebersihan diri dan pola konsumsi. Ia mengapresiasi kemajuan yang sudah dicapai oleh masyarakat Desa Wolowea tersebut. Akan tetapi Ia juga mengingatkan agar semua anggota keluarga harus taat menggunakan jamban.

“Jangan ada lagi yang WC di luar, biasakan anak sejak kecil membuang air di kamar WC, “pesannya.

Pada kesempatan itu Ia juga mengajak agar masyarakat mulai memikirkan tatanan hidup baru dengan keberpihakan yang lebih besar kepada perempuan. Ia mengutarakan cara berpikir baru terkait kebudayaan yang selama ini terlalu membebani hidup seorang ibu rumah tangga.

Salah satu yang ditawarkannya adalah agar bagian tertentu dalam budaya adat belis juga dikonversi menjadi persyaratan kesanggupan bagi pihak calon suami untuk menyediakan berbagai sarana vital yang memudahkan pekerjaan domestik anak perempuan ketika menjadi istri, ibu atau anak menantu. Di antaranya, bak penampung air bersih, dapur sehat, gudang pangan, kamar WC dan petak sayur. Karena menurutnya, jika ibu sehat, anak yang dilahirkannya juga sehat dan bermutu. Selain itu, menurutnya, jika hati seorang ibu bergembira, maka seisi rumah ikut bergembira.

Last modified on Monday, 30 September 2019 03:19

Leave a comment

Make sure you enter all the required information, indicated by an asterisk (*). HTML code is not allowed.

Copyright by Kominfo Nagekeo Pemkab Nagekeo