Berita Terkini

Berita Terkini (16)

12836

 

Humas Kabupaten Nagekeo

25 September pukul 11.56

Festival Literasi Nagekeo Tahun 2019 segera digelar dua hari lagi. Persisnya akan berlangsung tanggal 27 - 30 September 2019.

Panitia terus melakukan koordinasi dan persiapan teknis, mulai dari arena festival, pemantapan pentas, hingga pegelaran event-event pendahuluan. Lomba berpantun dalam bahasa daerah untuk orang dewasa, salah satunya.

Delapan peserta dari berbagai kecamatan unjuk kebolehan dalam mendaraskan berbagai pesan dan kearifan yang hidup di berbagai komunitas adat. Satu-satunya ASN yang ikut berlomba adalah Gaspar Taka, yang saat ini menjabat sebagai Kabag Humas pada Setda Kabupaten Nagekeo. Ia terkenal dengan kepiawaian berpuisi dengan kata-kata indah.

Enam Belas Pantun berhasil diucapkan luar kepala:

"Sa mega sama ti'i bako dheka

Mega sa sama tii uta ka

(Tegur-sapa, salam menjadi dasar adat budaya)

Moi loda guna mona

Welu bhada tau apa

Oko wai ana moo jadi kita ata ngai da

(Simpan barang-barang berharga tidak ada gunanya, sekolahkan anak menjadi manusia cerdas)

Sura paca dheo na'a

Paca sura dheo tuga

Ne'e ulu ijasa

Wee tau sura paca

(Jangan dulu pacaran semasih sekolah, ada pekerjaan baharu berumah tangga)

Uma zale ghoe

Ngusa mu foe

Gegi ana mori

Tau pasa tosi

(Bekerja samalah untuk mencapai kesuksesan)

To'o jogho

waga sama

Kolo satoko

Tali satebu

Bhila tali delu telu

(Hidup harus bergotong-royong, senasib sepenanggungan)

Go moko ma'e bhogo

Go ata ma'e laga

Go moko ma'e ngo

Go ata ma'e ala

(Jangan mengambil milil orang lain)

Sezu benu detu

Riwu be'o zebu-zebu

Pata laga mala

Ngusa be'o sama-sama

(Sama-sama tahu, sama-sama rasakan (transparan))

Jara bhara gero

logo bowo rewo

Teo rewo oka

Logo laza mona

(Kerja tanpa inovasi dan kreativitas akan gagal)

Pata peka mena

Sezu zebu zale

Uta ma'e sua

Watu ma'e wage

(Apa yang sudah diucapkan sebagai komitmen, haram ubtuk ditarik kembali)

Ame jogo kita poko oko

Miu zele wolo

Kami zili lowo

Negha wadho kodho

(Sama-sama berupaya, hasil dinikmati sendiri)

Zeta ulu bhila nunu da kaka wutu

Kita ngusa mutu mumu

Lau eko bhila feo da ada eo

Kita ngusa papa dheko

(Musyawarah untuk mencapai mufakat)

Ulu papa pulu

Eko papa pongo

Pulu nu'u nu'u

Pongo bholo-bholo

(Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh)

Nunu meze mena

Negha boka peka

Toni tebu wali

Molo goo ngai

(Patah tumbuh hilang berganti, banyak yang mati muncul lain lagi)

Sekola kita mogha-mogha

Guru pati kota ma'e walo mogha

Agama kita sama-sama

Tua baca ngaza kita maso surga

(Belajar tekun hidup berakhlak, pasti sukses di dunia dan di surga)

Poke pana

Wela delu

Teka aa

Zia zebu

(Orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain (iri hati), sama halnya kita beri berkat berlimpah kepada musuh)

Dua nuka-nuka

Bhila lako kiki usa

So laju wa'u

Bhila me go reme manu

(Orang serakah dikutuk Tuhan)"

Dari para peserta tersebut juga terdapat seorang pemuda yang mengaku sangat mencintai syair-syair dalam khazanah bahasa daerah Nagekeo. Dia adalah dari Fauzan (28) dari Aloronga, Kelurahan Mbay I Kecamatan Aesesa.

"Kalau dulu saya di bagian pukul gong saat acara-acara seperti penyambutan imam baru ataupun MTQ. Bertepatan dengan festival literasi, saya merasa saatnya para pemuda melakukan regenerasi agar kearifan-kearifan dari budaya Nagekeo tetap terpelihara, saya memilih pantun, "ungkapnya penuh semangat usai lomba.

Fauzan lantang membawakan syair dengan diselingi nyanyian merdu. Sampai saat berita ini diturunkan, Ketua Tim Juri, Petrus Lengi, masih memimpin timnya untuk membuat rekapitulasi hasil penilaian.

Festival literasi yang menurut rencana akan dihadiri juga oleh para Gubernur NTT, para bupati, anggota DPRD, Kepala Perpusnas RI, Pembawa Talk-show salah satu stasiun TV swasta, Just Alvin, dan berbagai pegiat literasi daerah maupun pusat ini adalah yang pertama kalinya di Nagekeo maupun NTT. Buoati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, dan Pimpinan DPRD Kabupaten Nagekeo, Yoseph Dhenga, mengajak semua warga masyarakat Nagekeo baik di daerah maupun diaspora, bahu membahu memberi dukungan. Karena menurut mereka berdua, festival literasi adalah momentum untuk menggaungkan dan mengakarkan literasi dalam kehidupan masyarakat sehingga cita-cita Nagekeo yang Sejahtera, Nyaman dan Bermartabat dapat terwujud.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

70168094 2532946646984745 9196397872709369856 n70697209 2532946766984733 5600196634504855552 n

 

Pemerintah Kabupaten Nagekeo terus mendorong pertumbuhan dan pengembangan koperasi di daerah. Data Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Kabupaten Nagekeo menunjukkan bahwa sejak awal tahun 2019, terdapat penambahan 12 koperasi yang berbadan hukum sehingga saat ini menjadi 93 koperasi.

Salah satunya adalah Koperasi Simpan Pinjam Tanaoba Lais Manekat. Masuk pada Bulan April 2019, koperasi primer nasional ke-9 di Nagekeo ini pada hari Jumat (13 September 2019) kemarin akhirnya oleh Bupati Nagekeo dinyatakan resmi beroperasi, ditandai dengan pemukulan gong dan penandatanganan prasasti di Aula Paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae.

Sekretaris Dewan Pegawas, Frits O. Laoebela melaporkan dalam rangkaian acara peresmian tersebut bahwa KSP. TLM adalah koperasi berpredikat “SEHAT” DAN telah memiliki 38 kantor cabang yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Bali, Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat dengan anggota sebanyak 199.922 orang.

“Aset tercatat sebesar 198 Miliar, Ekuitas 39,5 Miliar untuk seluruh wilayah dan Kredit macet atau NPL hanya sebesar 0,6 % atau kurang dari 1 %, “ungkapnya.

Menurutnya, animo masyarakat Nagekeo ternyata begitu tinggi. Terbukti hanya dalam beberapa bulan sejak pertama kali diperkenalkan pada April lalu, anggota yang bergabung sudah cukup banyak.

“Antuasiasme kaum perempuan di wilayah ini sangat tinggi, ternyata sudah mencapai 1397 anggota. Suatu perkembangan yang luar biasa, “akunya.

Hal ini, lanjutnya, tidak terlepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Nagekeo, baik Bupati Nagekeo sendiri maupun jajarannya di Dinas Perindustrian, Perdaggangan, Koperasi dan UMKM. Dari data yang terpampang di dinding kantor cabang diketahui bahwa para anggota tersebut baru berasal dari empat kecamatan, yakni Boawae, Mauponggo, Aesesa Selatan dan Aesesa. Semua Desa dan kelurahan dikelompokkan ke dalam 6 wilayah dengan satu pendamping untuk masing-masingnya.

Kepala KSP. TLM Cabang Nagekeo, Yabes Timunis, menambahkan di sela-sela kegiatan bahwa semua anggota berasal dari kaum perempuan yang menggabungkan diri dalam kelompok besar yang bernama “SESAMA” atau Persekutuan Usaha Bersama. Menurutnya, pertumbuhan anggota KSP. TLM di Nagekeo sangat menggembirakan.

“Anggota-anggota tergabung dalam 61 kelompok kecil, “jelasnya. Mereka, ungkap Yabes, adalah kelompok perempuan penenun, pedagang, nelayan dan lainnya yang jumlahnya masing-masing berkisar antara 10 – 31 orang.

Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, dalam sambutannya menyatakan bahwa pada awalnya Ia merasa kurang yakin mengingat sudah banyaknya koperasi saat ini. Namun, berkat kegigihan para pengurusnya dalam menerima tantangan, maka Ia segera memberikan rekomendasi untuk proses perijinan selanjutnya. Apalagi, menurutnya, keanggotaan koperasi yang menyasar ibu-ibu atau kaum perempuan berpenghasilan rendah menunjukkan bahwa KSP. TLM jelas telah dan akan membuat perbedaan. Ia berkeyakinan bahwa jika ibu-ibu diberi akses dan kewenangan untuk mengelola uang, maka keluarga, masyarakat, daerah bahkan negara akan maju dan kuat. Karena pertama-tama yang akan dipikirkannya adalah anak, kemudian suami, dan terakhir baru dirinya sendiri.

“Waktu itu Saya tertarik kepada TLM terutama karena sasaran mereka adalah ibu-ibu berpenghasilan rendah. Lalu saya membayangkan, mendefinisikan, siapakah Ibu-ibu berpenghasilan rendah itu, “kisahnya

Sejak awal memimpin, perhatian dr. Don langsung diarahkan untuk memerluas akses yang lebih adil bagi kaum perempuan yang berpenghasilan rendah dalam pengembangan usaha ultra-mikro, mikro, kecil maupun menengah. Bersamaan dengan penataan Pasar Danga, Ia telah mengundang makan malam para bankir, pengurus koperasi dan pendamping dana desa sekaligus menantang mereka agar menyediakan skema-skema khusus bagi kelompok miskin.

“Saya sedang membenahi Pasar Danga, dan apa yang mengganggu nurani saya adalah melihat pemandangan ibu-ibu yang tidak memperoleh kesempatan, yang menjual sayuran, jual lombok, kalau Hari Sabtu atau Jumat mereka jual sirih pinang, ubi talas, pisang, pakai karung plastik yang sobek dan kumal lalu bentang di emperan gedung atau pinggir aspal, “Ia menguraikan siapa wanita berpenghasilan rendah yang dimaksudkannya.

Menurut Bupati Don, kelompok ini selain sulit mengakses sarana-prasarana umum, juga rentan terhadap praktik rente. Sehingga, lebih lanjut Ia memandang, keberadaan koperasi dengan skema-skema inovatif seperti yang ditawarkan KSP. TLM sudah bisa menjawabi apa yang menjadi pergumulannya selama ini.

Pada awal bulan lalu KSP. TLM bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Pusat Daerah (Dekranasda) Kabupaten Nagekeo memberikan skema pendampingan khusus bagi kelompok Tenun di Desa Gerodhere Kecamatan Boawae. Ibu-ibu Penenun dilatih untuk menghasilkan kain yang lebih bermutu dengan tambahan beberapa model di luar yang sudah diwarisi turun-temurun. Mereka juga diajarkan cara menetapkan harga wajar penjualan sehingga bisa berkompetisi di pasar.

Joel Mesakh dari bagian pengembangan SDM, untuk ibu-ibu tersebut, KSP. TLM memberikan peralatan tenun dan peningkatan keterampilan untuk bisa bekerja dalam waktu yang terukur dan lebih efisien.

“Ibu-ibu diajarkan untuk perbanyak model dengan kualitas baru. Selama ini hanya dua model saja dan kainnya mudah luntur, “ungkapnya waktu itu, usai penutupan kegiatan pelatihan.

Menurut Joel, ide kreatif seperti itu baru pertama kali dilaksanakan di Nagekeo berkat motivasi dan dorongan Bupati Don dan akan menjadi contoh untuk cabang-cabang lainnya.

Pada acara peresmian operasional KSP. TLM Cabang Nagekeo hari itu, Bupati Don beberapa kali mengimbau kepada para Ibu untuk memerkuat gerakan koperasi.

“Bergotong-royong dan bekerja sama adalah amanat konstitusi dan perintah Tuhan sendiri. Oleh karena itu tidak hanya pengurus, saya ajak kita semua untuk tidak mudah menyerah dan putus asa dan mengajak teman-teman untuk berkoperasi, di mana saja, koperasi apa saja, termasuk kalau cocok dengan TLM, ikut saja. Kalau ada yang salah, berarti salah kita yang anggota, salah kita pengurus, jauhkan diskriminasi di antara sesama anggota, “tegasnya.

Ia memberi peneguhan bahwa kunci keberhasilan adalah ketekunan. Karena menurutnya, alam telah memberi pelajaran bahwa dengan melakukan berulang-ulang, terus-menerus, hal itu akan diraih, sekeras apapun tantangan yang dihadapi. Seperti air melubangi batu, ia kerap kali menetes jatuh.

“Gutta Cavat Lapidem, Non Vi Sed Saepe Cadendo, “Ia mengulang perumpaan tersebut dalam bahasa Latin.

Sebuah Perayaan Misa Syukur dan resepsi menjadi perayaan puncak dari rangkaian prosesi peresmian.

123456

 

Humas Kabupaten Nagekeo

10 September pukul 23.07 ·

Tujuh wanita Nagekeo hari ini (10 September 2019) berada di Kedutaan Besar India di Jl. H.R. Rasuna Said Jakarta. Mereka adalah orang-orang terpilih dan terutus dari desa masing-masing untuk belajar merakit peralatan penerangan dari energi matahari (Sollar Energy), yakni Marselina Nena (Tedamude), Paulina Toyo (Renduola), Yohana Tawa (Tedamude), Albina Bai (Pagomogo), Elisabeth Ndaru (Mbay II),Florida Teang (Tedamude), dan Ludgardis Tibu (Tedakisa).

Didampingi oleh pengurus Yayasan Wadah Titian Harapan (Wadah Foundation), para duta terang tersebut diterima dengan hangat oleh Duta Besar India, Mr. Pradeep Kumar Rawat. Dubes, dalam kesempatan tersebut, mengajak berbicara langsung dan menanyakan daerah asal masing-masing.

Pertemuan tersebut semakin memantapkan keyakinan mereka akan manfaat program dalam memerbaiki masa depan pribadi,keluarga dan komunitasnya. Karena, menurut Yohanes Siga, selaku PIC (Person in Charge) Wadah Foundation Kabupaten Nagekeo, meyakinkan mereka merupakan pekerjaan yang tidak mudah.

“Ketika pertama kali menghubungi pemerintah desa dan keluarga, tantangan terberatnya adalah isu dan trauma terkait human trafficking dari banyak kasus selama ini. Sementara tawaran datang dalam waktu singkat, “kisah Yan.

Tetapi berkat kemauan keras wanita-wanita tersebut, lanjut Yan, Ia dapat membantu menyelesaikan berbagai tahapan yang dipersyaratkan,mulai dari pengurusan administrasi kependudukan, pemeriksan kesehatan dan pengurusan paspor.

“Sebenarnya jatah kita sepuluh orang, hanya masih ada tiga orang lagi yang perlu didekati dengan lebih baik untuk bisa menyusul ke sana, “lanjutnya, sekan tidak rela kalau sisa jatah tersebut akhirnya jatuh ke kabupaten lain yang juga memerjuangkan hal yang sama.

Sebelum berangkat ke Jakarta, pada hari Sabtu (7 September 2019), di hadapan para suami, keluarga dan Kepala Desa Tedamude, Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do melepas rombongan di Rumah Jabatannya. Ia ciptakan suasana bersahaja penuh canda-tawa untuk menguatkan hati mereka yang datang dari berbagai latar belakang pendidikan dan kehidupan pedesaan.

Bupati Don mengatakan bahwa Ia telah mengenal roh dari program yayasan tersebut melalui acara di sebuah stasiun televisi.

“Saya pernah nonton di acara National Geography, program untuk orang miskin di India, suami-suaminya pergi merantau, terdapatlah perempuan-perempuan tangguh yang harus atau terpaksa tetap tinggal di desa, sambil membesarkan anak-anak, “ceritanya.

Problema membesarkan anak dianalisis, lanjutnya, kemudian ada lembaga yang mau membantu mereka, membawa teknologi sollar cell dari jerman, mereka di sana mulai belajar dari pekerjaan mengganti atap dengan panel-panel dan selain menghasilkan penerangan juga bisa digunakan untuk memasak dan mendukung pertanian.

Dalam berbagai kesempatan Ia sendiri selalu menyerukan keberpihakan yang lebih besar bagi perempuan melalui penyediaan sarana-prasarana yang memudahkan pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Program riilnya adalah gerakan membangun rumah mulai dari belakang: dapur sehat, tandon air, kamar mandi/WC bersih, gudang bahan bakar, gudang pangan dan petak sayur. Menurutnya, dengan begitu pekerjaan Ibu sudah menjadi lebih mudah dan membuat mereka lebih sehat. Jika Ibu sehat maka anak yang dilahirkan dan dibesarkan juga akan sehat.

Sebelum memegang tangan dan berpose satu per satu, bupati menitipkan pesan agar mereka tidak lupa untuk menjalin komunikasi dengan suami dan anak-anak. Karena menurutnya, mereka melangkah dengan dukungan doa dan harapan agar sekembalinya dari sana dapat menjadi “terang” bagi keluarga dan masyarakat.

“Kalian juga akan fluent in English (fasih berbahasa Inggris) dan sedikit Bahasa Urdu karena terjun langsung, “tambahnya memberikan motivasi.

Demikian juga kepada para suami Ia berpesan, “Jagalah anak-anak, belilah buku untuk mereka, usahakan baca buku cerita sama anak-anak sebelum mereka tidur, pengalaman baru, nanti video call dari sana, usahakan kalian bercerita kepada anak-anak.”

Usai dari rujab, wanita-wanita yang datang dalam balutan dhowik Mbay tersebut bertolak ke Maumere dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta pada tanggal 9 September 2019. Sesuai jadwal, mereka akan diberangkatkan ke Negeri Nehru dan Gandhi pada tanggal 13 September 2019 dengan rute Jakarta – Singapura – New Delhi.

Yan, aktivis yang lama bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat desa berpisah di pintu keberangkatan domestik Bandara Frans Seda dan tetap memantau hari demi hari. Ia menjelaskan bahwa rencana alokasi listrik tenaga surya untuk Kabupaten Nagekeo sebanyak 699 unit dan paling banyak akan dipasang di rumah warga sebanyak 652 unit. Selebihnya akan dibagi ke polindes, pustu dan kantor desa. Ia juga menginformasikan bahwa para teknisi tenaga surya tersebut selama enam bulan akan dibekali dengan kemampuan memperbaiki, memelihara, dan merakit berbagai peralatan tenaga surya baik untuk dipakai sendiri maupun untuk dijual.

Yayasan Wadah Titian Harapan merupakan yayasan internasional milik Anie Hashim Djojohadikusumo yang berbasis di Jakarta. Misinya adalah memberdayakan ibu-ibu untuk membantu diri mereka sendiri dan menciptakan masa depan yang lebih baik untuk keluarga dan komunitas serta menolong perempuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial, pendidikan, komunitas dan kebudayaan. Selama satu dasawarsa berdiri telah berkarya di berbagai wilayah nusantara. Berkat kerja sama dengan pemerintah daerah dan pemerintah desa, Nagekeo menjadi kabupaten sasaran kedua, di samping Sikka yang sudah lebih dahulu mengirim wargaya pada tahun 2013 silam.

69905830 730967397357528 5295535852372361216 n69745043 730967457357522 6126973853668212736 n69731604 730967434024191 1822383425743486976 n69494096 730967544024180 5947826932346257408 n

 

Humas Kabupaten Nagekeo
5 September pukul 16.30

Pemukulan Gong oleh Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, hari ini (5 September 2019) di Aula Kantor Desa Wolowea Kecamatan Boawae menandai diresmikannya desa tersebut sebagai desa kelima yang dinyatakan telah bebas dari perilaku buang air besar sembarangan. Kegiatan ini disaksikan oleh seluruh masyarakat dan para pejabat dari perangkat beberapa daerah terkait.

Sebelumnya, Sekretaris Desa Wolowea, Ansimus Meo Ngengo, selaku ketua panitia, melaporkan bahwa berkat proses pemicuan dan pemantauan terus-menerus, perilaku higienis dan sanitasi warga telah berubah. Lebih jauh Sekdes Ansi menguraikan bahwa alasan kegiatan ini dilaksanakan adalah 100 % KK (Kepala Keluarga) telah telah memiliki jamban yang didukung dengan ketersediaan sarana air bersih dari program Pamsimas.

Sementara Fransiskus Podo, Kepala Desa Wolowea, dalam sambutannya menjelaskan bahwa dari aspek kepemilikan jamban, perilaku hidup sehat warganya meningkat dalam kurun waktu yang relatif singkat.

“Pada tanggal 17 September 2018, masih terdapat 11 KK yang belum memiliki jamban, berkat proses pemicuan yang menimbulkan kesadaran dan rasa malu, dalam tempo kurang dari satu bulan, semuanya telah memilikinya, ”ungkapnya.

Menurutnya, Desa Wolowea saat ini memiliki penduduk sebanyak 1225 jiwa yang tersebar di 245 KK dan 210 rumah tangga. Dari hasi verifikasi, ditemukan bahwa 1079 jiwa menggunakan jenis jamban leher angsa, sisanya masih berupa plengsengan. Ia pun berkomitmen terus mengajak mereka untuk secara bertahap menegakkan pilar-pilar STBM.

Bupati Don dalam arahannya mengajak masyarakat agar meningkatkan derajad kesehatan melalui perbaikan kebersihan diri dan pola konsumsi. Ia mengapresiasi kemajuan yang sudah dicapai oleh masyarakat Desa Wolowea tersebut. Akan tetapi Ia juga mengingatkan agar semua anggota keluarga harus taat menggunakan jamban.

“Jangan ada lagi yang WC di luar, biasakan anak sejak kecil membuang air di kamar WC, “pesannya.

Pada kesempatan itu Ia juga mengajak agar masyarakat mulai memikirkan tatanan hidup baru dengan keberpihakan yang lebih besar kepada perempuan. Ia mengutarakan cara berpikir baru terkait kebudayaan yang selama ini terlalu membebani hidup seorang ibu rumah tangga.

Salah satu yang ditawarkannya adalah agar bagian tertentu dalam budaya adat belis juga dikonversi menjadi persyaratan kesanggupan bagi pihak calon suami untuk menyediakan berbagai sarana vital yang memudahkan pekerjaan domestik anak perempuan ketika menjadi istri, ibu atau anak menantu. Di antaranya, bak penampung air bersih, dapur sehat, gudang pangan, kamar WC dan petak sayur. Karena menurutnya, jika ibu sehat, anak yang dilahirkannya juga sehat dan bermutu. Selain itu, menurutnya, jika hati seorang ibu bergembira, maka seisi rumah ikut bergembira.

69748558 727166071070994 7141661397766635520 n69639936 727166104404324 317815017124659200 n

Humas Kabupaten Nagekeo
30 Agustus pukul 17.10

Pemerintah Daerah dan DPRD Kabupaten Nagekeo bersama-sama telah membuat sebuah keputusan penting. Pada Tanggal 28 Agustus 2019, kedua lembaga tersebut mencapai kesepakatan dengan menandatangani Naskah Persetujuan Bersama tentang Persetujuan Hibah Tanah Milik Pemerintah Daerah untuk Pembangunan Kejaksaan Negeri Nagekeo.

Sebelumnya, setelah sekian lama masyarakat Nagekeo berharap, kepastian untuk memiliki institusi kejaksaan negeri sendiri telah mendapat lampu hijau. Pada hari Rabu (20 Agustus 2019), Biro Perencanaan Kejaksaan Agung Republik Indonesia yang didampingi oleh Kejaksaan Negeri Bajawa dan Kejaksaan Tinggi Kupang melakukan kajian lapangan dan pengumpulan data.

Saat itu, Eko Siwi Iriyani, SH, Kepala Bagian Organisasi dan Tata Laksana pada Biro Perencanaan, mengatakan bahwa dukungan dan persetujuan DPRD merupakan syarat yang tidak bisa diabaikan.

“Persyaratan kami adalah dukungan DPR, kalau DPR ndak menyetujui, ndak jadi juga, kan?” tegasnya.

Eko juga membeberkan bahwa baru 429 dari 514 kabupaten di Indonesia yang memiliki kejaksaan negeri. Termasuk di dalamnya adalah 5 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

“Dari kelima kabupaten tersebut, Nagekeo mendapat prioritas pertama dari kami, “Jaksa Utama Pratama itu memastikan.

Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, M.Kes dan dan Wakil Ketua DPRD, Kristianus Dua Wea, S.Fil kompak menyambut mereka di rumah jabatan bupati. Keduanya sama-sama berharap agar pembangunan bisa selesai dilaksanakan paling lambat pada tahun anggaran 2021.

Bupati Don menyatakan bahwa lahan yang dibutuhkan telah disiapkan. Tidak hanya itu, lanjutnya, tanah untuk Polres dan Pengadilan juga sedang dalam proses pengalihan hak. Beberapa hari sebelumnya Ia telah menandatangani akte hibah tanah bagi Kepolisian Republik Indonesia.

“Saya sih tidak mau lama-lama dan ingin agar prosesnya lebih cepat jalan,” ungkapnya kepada tamu-tamu tersebut.

Berbeda dengan tanah bakal Polres Nagekeo, sesuai regulasi, proses hibah tanah untuk kejaksaan, masih membutuhkan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Menyambung apa yang disampaikan bupati, pimpinan DPRD, Kris Dua Wea, pada kesempatan tersebut antusias untuk segera agendakan sidang paripurna terkait permohonan persetujuan hibah.

“Kami sangat membutuhkan institusi ini, ”ucapnya sambil memberikan salam kepada rombongan.

Ia mengatakan bahwa kehadiran kejaksaan negeri sangat bermanfaat bagi masyarakat dan akan menjadi prestasi tersendiri buat pemerintah maupun lembaga DPRD Kabupaten Nagekeo.

“Masyarakat selalu bertanya, kapan institusi vertikal ini hadir di Nagekeo, “tambahnya.

Karenanya sebagai pimpinan lembaga DPRD, Ia telah membangun komunikasi yang baik dengan semua anggota dan menyisipkan pembahasan terkait hibah tanah tersebut di sela-sela padatnya pembahasan APBD Perubahan Tahun Anggaran 2019 yang sedang berlangsung.

BERITA (1)

 

Tujuh bulan lebih sejak dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Nagekeo merupakan waktu yang cukup bagi dr. Johanes Don Bosco Do, M.Kes dan Marianus Waja, SH untuk mengenal Aparatur Sipil Negara (ASN) yang dipimpinnya. Dalam rangka pendayagunaan dan peningkatan kinerja birokrasi pada lingkup Pemerintah Daerah Kabupaten Nagekeo, kemarin (Senin, 29 Juli 2019), bertempat di Aula Naratama Sekretariat Daerah, 11 Pejabat Eselon III dan 4 orang Eselon IV dilantik untuk menduduki jabatan administrator dan pengawas di sejumlah perangkat daerah.

Disaksikan oleh Wabup Marianus, Penjabat Sekda Drs. Bernad Dinus Fansiena, MT, para kepala perangkat daerah, para rohaniwan/ulama dan perwakilan Forkopimda Ngada-Nagekeo, Bupati Nagekeo menitipkan sejumlah agenda aktual daerah yang wajib mereka tuntaskan bersama kepala perangkat daerah masing-masing. Atas dasar penilaian yang cermat selama ini, setiap pejabat diberikan tantangan spesifik sesuai tugas pokok dan fungsinya, satu demi satu.

Kepada Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan yang baru, Kasimirus Dhoy, S.E., Bupati Don mengingatkan agar pekerjaan Kepala Badan dapat dibantu sepenuhnya.

"Tidak boleh ada yang terabaikan dan harus berpedoman benar pada Renstra dan RPJMD, "tegasnya tentang penyelesaian berbagai dokumen perencanaan dan penganggaran, baik Tahun 2019 maupun 2020.

Para pejabat pada Dinas Pertanian mendapat giliran kedua. Kepada mereka diingatkan mengenai agenda besar saat ini, yakni Menyukseskan Program Gilir Tanam di Sekunder 1 - Irigasi Mbay yang dikenal dengan Program 1000 Hektare Jagung. Data luas lahan, luas tanam, serta kepemilikan sertifikat, menurutnya, harus akurat.

"Menggandeng Nakertrans dan Dinas Sosial, turun ke lapangan untuk mencatat betul keluarga-keluarga yang terpaksa tinggal di sawah, menyewa lahan di sawah karena mereka tidak mempunyai lahan kering dan lahan garapan, "perintahnya lugas. Ia mengatakan bahwa para petani yang tidak memiliki lahan tersebut telah Ia identifikasi sejak awal dan ditemukannya kebanyakan dari pihak anak perempuan dalam keluarga.

Ia lalu menyapa Maksimilianus Betu, Sos, Sekretaris Dinas Sosial yang baru dengan ajakan, "Pak Maksi, turun ke sawah, lihat betul tenaga kerja yang ada di sana, bagaimana mereka memperoleh nafkah dari pekerjaan di lahan sawah berupa Sore Kasih (SK)."

Ditambahkan pula bahwa banyak fenomena sosial-ekonomi yang bisa dipelajari dalam program 1000 hektare jagung. "Termasuk jual beli lahan ilegal, "imbuhnya sambil membeberkan fakta persoalan penataan dan pembagian lahan di Wilayah Irigasi Mbay.

Ia juga mengatakan bahwa Dinas Pertanian bertanggung jawab atas ketersediaan dan distribusi pangan untuk mengatasi persoalan gizi dan stunting.

"Hari Senin lalu saya berbicara dengan Ibu Sherly di KB untuk membantu Kepala KB, Pak Syukur, untuk lebih bergerak ke hulu menyiapkan calon ibu sebelum menikah, "Ia mengulang amanatnya kepada Dra. Sesilia Nuwa saat dilantik menjadi Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, satu minggu sebelumnya.

Di bidang sosial, Ia sekali lagi menginstruksikan Sekretaris Dinas Sosial yang baru agar benar-benar mengunjungi setiap penyandang masalah kesejahteraan sosial di Kabupaten Nagekeo.

"Saya minta yang pertama, kunjungi seorang yang bernama Ibu Maria Wula di Kampung Bumu Desa Ua, setelah Pak Maksi mengunjungi itu baru diskusi dengan saya, apa yang saya maksudkan dengan pekerjaan kalian yang ada di Dinas Sosial."

Maria Wula adalah salah satu penyandang masalah kesejahteraan sosial yang Ia kunjungi saat blusukan di masa kampanye lalu. Diingatkannya pula bahwa kelompok ini berpeluang melahirkan kelompok stunting yang sulit berfikir dan rentan terhadap profokasi.

Kepada Sekretaris Dinas Perumahan Perumahan Rakyat dan Permukiman Wilayah, Epidiana Nago, A.Md, Bupati mengingatkan agar bersama kepala dinasnya memastikan agar setiap bantuan perumahan jatuh pada orang yang benar-benar membutuhkan.

Ia menitipkan pesan agar kegiatan identifikasi keluarga yang tidak memiliki rumah layak huni dilakukan serentak dengan pendataan kepemilikan lahan di Sekunder 1 - Irigasi Mbay.

"Kalau belum mendapatkan lokasi baru, tolong ini dimasukkan dalam skema Malaputi atau Malasera, "imbaunya.Untuk dikeetahui, saat ini Pemda Nagekeo sedang menyelesaikan persoalan di kedua lokasi tersebut dengan pihak pengembang.

Setelah itu, kepada Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Festina Andriati, S.Pd., Bupati menitipkan kesuksesan Gerakan Literasi Sekolah dan Gerakan 15 Menit Membaca. Ditambahkannya pula bahwa sekolah harus dilibatkan dalam menciptakan lingkungan kota yang bebas dari masalah sampah.

"Ibu Andri, saya mengembalikan Ibu ke sana, saya mengetahui minat, passion, hati dan pikiran Ibu terhadap pendidikan terutama pendidikan luar sekolah, "sapanya.

Selanjutnya kepada Laurentius Y. Ndoa, S. Sos., Bupati Don mengatakan, "Pak, Laurens, Saya mengutus Pak Laurens ke sana bukan tanpa alasan."

Mantan Camat Keo Tengah ini dilantik menjadi Inspektur Pembantu Wilayah I karena yang bersangkutan dinilai mampu memerbaiki tugas pokok dan fungsi yang selama ini tidak berjalan di Inspektorat. Menurutnya, Inspektorat harus dibuat menjadi institusi model bagi perangkat daerah lain, bukan sebaliknya.

Sementara Camat Keo Tengah yang baru, Hildegardis Mutha Kasi, S.IP, MPA, wanita kedua di Nagekeo yang menjadi camat, diharapkan Bupati agar mengaplikasikan pengalamannya selama menjadi Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah.

Menurut Bupati Don, pembuktiannya terletak pada kemampuan untuk memaksimalkan prestasi-prestasi masyarakat, termasuk menghidupkan industri sabun yang pernah ada di masa lalu. Di samping itu, tantangan lainnya yang diberikan kepada wanita Nagekeo kedua yang menjadi camat ini, adalah membuat kapasitas industri Cokelat Kobar menjadi lebih besar sehingga memenuhi permintaan pasar luar daerah.

"Dorong masyarakat di sana mencapai puncak-puncak prestasi mereka. Ibu sudah tahu bagaimana mengatur resource allocation dulu di Bappeda, dan ketika berada di bawah, di lapangan dan ini saya sebut laboratorium, Ibu Hilde, laboratorium juga buat saya, kembangkan betul dan saya akan bantu at all cost, "tekadnya.

Bupati Don berharap agar semua pejabat langsung bekerja cepat, cerdas dan cermat karena pada saatnya Ia akan menagih hasilnya. Ia tidak melantik pejabat dalam jumlah besar agar mengarahkan fokus para pejabat menukik pada persoalan-persoalan aktual.

BERITA (2)

BERITA (3)

BERITA (4)

 

GUBERNUR NTT DUKUNG FESTIVAL LITERASI NAGEKEO DIGELAR SETIAP TAHUN DAN SIAPKAN PUBLIKASI EKSPONENSIAL

WhatsApp Image 2019 04 28 at 3.07.00 PM 1

 

 

 

Tidak main-main tekad Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur untuk mewujudkan kebangkitan dan perubahan di wilayahnya. Dalam rangka menciptakan lompatan-lompatan besar, Gubernur Victor Bungtilu Laiskodat menjadikan sektor pariwisata sebagai penggerak utama pembangunan.

Melalui pariwisata, banyak langkah besar yang akan dilakukan. Salah satunya adalah Festival dan Expo Literasi Nagekeo 2019 yang menurut rencana akan diselenggarakan 10 Agustus 2019 mendatang.

Terkait dengan event nasional tersebut, Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, sebelumnya telah melaksanakan serangkaian koordinasi baik di tingkat pusat maupun daerah. Pada tanggal 11 April 2019 lalu, Ia sukseskan Soft-Launching di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pada momen yang dihadiri salah satunya oleh Abang dan None Jakarta tersebut, Ia menganugerahkan penghargaan kepada Ibu Julia Sutrisno sebagai Pelopor Literasi Tenun Ikat Nagekeo dan Mantan Bupati Nagekeo, Drs. Elias Djo, sebagai Pelopor Gerakan Literasi Nagekeo.

Pada hari Jumat (26 April 2019), kedua pucuk pimpinan daerah itu menggelar pertemuan koordinasi di ruang kerja gubernur.

"Semua bupati wajib ikut dalam kegiatan ini," tegas Gubernur. Ia kemudian mengingatkan para pejabat lingkup setda Provinsi yang turut hadir agar segera berkoordinasi dan lakukan sosialisasi kepada semua perangkat daerah dan kepala daerah se-NTT.

Karena kegiatan ini memiliki dampak yang besar bagi NTT, gubernur bertekad dan sangat berharap agar semua kekuatan dan elemen masyarakat memgambil bagian secara aktif, mulai dari persiapan, promosi dan pelaksanaan nanti.

"Ajak pihak Gereja, bupati, para bloggers dan semua ASN untuk viralkan ini, buatkan broadcasting yang eksponensial di mana penggiat medsos yang akan ikut memberikan tanggapan tembusan angka 1 juta, "lanjutnya.

Selain tokoh agama, Ia mengharapkan agar para bupati melibatkan berbagai pelaku dan fasilitator pembangunan di setiap desa dan kabupaten.

"Panggil PKH (Pendamping Program Keluarga Harapan), pendamping desa, PKK dan lainnya, "pungkasnya.

Tak lupa Ia mewajibkan semua, baik pengunjung maupun penampil, untuk berbusana adat dari berbagai daerah di NTT.

Menyambut arahan gubernur, Bupati Don menyatakan bahwa, sebagai tuan rumah, Nagekeo siap munyukseskan kegiatan yang bakal dijadikan even nasional bahkan internasional setiap tahun itu.

"Ini berkat luar biasa buat Nagekeo, terima kasih atas kesempatan hebat ini, "katanya kepada Gubernur.

Bupati Don menyampaikan demikian karena menurutnya, perpustakaan dan literasi dalam arti luas merupakan penyanggah peradaban manusia modern di masa mendatang.

Mendampingi Bupati Nagekeo, aktivis pemberdayaan masyarakat dari Jakarta, Mathias Mboi. Ia ikut menggambarkan content (menu) kegiatan festival.

"Salah satu yang akan memiliki makna penting bagi masyarakat adalah adanya momen deklarasi "NTT Bangkit, Ayo Berubah, "bebernya.

Selepas pertemuan yang berjalan kurang lebih sejam tersebut, Bupati Don, sebagaimana sikap dasarnya selama ini, tidak lagi menyia-nyiakan waktu. Pekerjaan berikutnya, menuju Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi NTT untuk berkoordinasi dan menyampaikan arahan gubernur.

Di ruang kerjanya, Kadis Kearsipan dan Perpustakaan NTT, Stef Ratoe Oedjoe, antusias menyatakan bahwa sebagai koordinator utama, Ia siap mengaungkan Festival Literasi Nagekeo.

"Kami akan sounding dulu kepada seluruh peserta Rapat Teknis Kearsipan se-NTT yang akan digelar di Maumere, 21 - 23 Mei mendatang, "tekadnya.

Selanjutnya, hingga malam hari, Bupati Don teruskan pembahasan mengenai topik yang sama di Hotel Sylvia Premier. Kesempatan tersebut Ia manfaatkan untuk menghimpun para pegiat literasi yang kompeten untuk curah pendapat.

WhatsApp Image 2019 04 28 at 3.07.01 PM

WhatsApp Image 2019 04 28 at 3.07.02 PM 1

WhatsApp Image 2019 04 28 at 3.07.03 PM

 

 

 

Bupati Nagekeo Pantau Suasana Pasca-Pemilu

1

Sehari setelah pencoblosan, suasana Tempat Pemungutan Suara (TPS)  berangsur sepi.  Sebaliknya,  Kantor Camat mulai didatangi para petugas penyelenggara pemilu membawa kotak suara dari desa.

Demikian hasil pantauan lapangan Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, di Empat Kecamatan. Pada hari Kamis (18 April 2019),     tinjauan  dimulai dari Kantor Camat Nangaroro.

Camat Nangaroro, Agapitus Bhia Ola, yang ditemui langsung oleh Bupati di ruang kerjanya mengatakan bahwa Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) sedang menunggu pergerakan logistik dan hasil rekapitulasi dari KPPS.

"Mereka diberi waktu sampai dengan Pukul 24.00 hari ini, "imbuhnya.

Hal itu terbukti setelah Bupati bertemu langsung para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di TPS 002 Bhondo Desa Woewutu dan TPS 002 Pombo Desa Tonggo. Para petugas tengah sibuk menyelesaikan administrasi yang diperlukan untuk segera dibawa ke Kantor Camat Nangaroro.

Sementara di TPS  yang terletak di Ujung Timur Kecamatan Keo Tengah, yakni Dusun Ndetumali Desa Kotodirumali, tampak tidak ada lagi aktivitas terkait pemilu. Salah seorang petugas mengatakan bahwa semua urusan di TPS baru saja selesai dan logistik sedang dalam perjalanan menuju Kantor Camat Keo Tengah.

Pukul 11.30 Wita Bupati Don tiba di Kantor Camat Keo Tengah, suasana masih lengang. Ia langsung menyusul Camat Keo Tengah, Laurentius Ndoa, yang baru saja kembali dari Kantor ke rumah pribadinya.

"Apa kabar? Bagaimana suasana sampai dengan saat ini?" tanya Bupati, ingin tahu kondisi terakhir.

Camat Lorens menjelaskan bahwa belum ada satu TPS pun, kecuali TPS Ndetumali, yang menginformasikan bahwa sudah rampungkan urusan administrasi.

"Kami  dalam posisi standby dan terus menunggu, "ujarnya.

Bupati bergerak terus ke arah Barat. Tiba di Maunori Desa Mbaenuamuri, Ia menyapa beberapa tokoh masyarakat dan bertemu langsung para petugas yang sedang tenggelam dalam pengisian aneka format di Kantor Desa Mbaenuamuri.

Charles Sina, tokoh muda asal Oka Desa Mbaenuamuri, mengaku puas dengan penyelenggaraan pemilu kali ini dan mengapresiasi kinerja penyelenggaranya.

"Tidak ada kejadian atau insiden apapun yang berlebihan, Pak Dokter, "lapornya.

Mendaki jalan sepanjang Maunori - Boawae, tidak ditemukan adanya kerumunan massa yang mencolok. Sekumpulan masyarakat sesekali tampak di pinggir jalan. Dalam perjalanan menuju Kantor Camat Boawae, Bupati dua kali berhenti meraih tangan pemuda-pemuda yang duduk berkelompok memperbincangkan hasil pilpres dan pileg. Di Desa Raja Selatan dan Kelurahan Rega.

Camat Boawae, Maria Dua, menerima kunjungan Bupati Nagekeo tersebut pukul 14.13 Wita. Aula terlihat sudah terisi dengan kotak suara dari Desa Rigi dan dua TPS Kelurahan Nageoga. Sementara Bupati  berdiri memantau, kotak suara terus berdatangan dari berbagai desa dan kelurahan.

Ketua PPK Kecamatan Boawae, Bruno Sanda, menggambarkan bahwa pengumpulan kotak suara dari desa-desa dan kelurahan akan berakhir pada hari yang sama, pukul 24.00 Wita.

Lebih lanjut Ia menambahkan, "Kalau tidak ada rintangan, rencananya besok  akan dilanjutkan dengan pleno."

Singgah sebebtar di salah satu TPS di Kelurahan Ratongamobo, terakhir yang dipantau adalah Kecamatan Aesesa Selatan. Di aula kantornya, Camat Aesesa Selatan, Ujang Salestinus Dekresano, menunjukkan kepada Bupati bahwa sampai dengan saat itu belum satupun TPS di wilayahnya yang  selesai menangani semua format.

"Mereka masih berusaha  selesaikan pengisian formulir dan format-format berita acara, Bapak, "lapornya.

Secara keseluruhan Bupati menyimpulkan bahwa suasana pileg dan pilpres yang digelar serentak oleh KPUD sampai dengan hari kedua tersebut aman dan terkendali.

Hal senada juga dijelaskan oleh salah satu komisioner Badan Pengawas Pemilu Kabupaten Nagekeo, Jo Nane Emanuel. Melalui pesan Whatsapp Ia menyatakan bahwa sampai dengan selesai Perayaan Jumat Agung, Jumat (19 April 2019) sore, suasana sangat kondusif.

 

Juga melalui pesan whatsapp, Ketua KPUD Ngaekeo, Quirinus Eleuterius, menginformasikan  bahwa semua kotak suara telah berada di masing-masing kantor camat.  Selanjutnya  menunggu rekapitulasi yang akan digelar tanggal 22 April 2019 mendatang.

pascapemilu 1pascapemilu 3

pascapemilu 4pascapemilu 5

pascapemilu 6pascapemilu 15

pascapemilu 17pascapemilu 34

pascapemilu 30pascapemilu 16

 

 

 

 

WhatsApp Image 2019 04 15 at 5.25.05 PM

Sebagai kelanjutan dari soft-launching Festival dan Expo Literasi Nagekeo 2019 yang digelar di Kantor Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Tanggal 11 April 2019, Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do menggelar Rapat Konsolidasi dan Persiapan di Aula Setda Kabupaten Nagekeo, Senin (16 April 2019).

Di hadapan Wakil Bupati Marianus Waja, Pj. Sekda dan para pejabat dari semua Perangkat Daerah, Bupati Don memberikan penjelasan lengkap mengenai makna dan tujuan festival akbar yang bakal digelar Agustus 2019 mendatang. Dikatakannya bahwa festival ini adalah proses yang memiliki arti penting bagi peningkatan derajat hidup masyarakat yang terdiri atas tahap pra, puncak dan pasca.

Dengan demikian, lanjutnya, literasi dalam arti luas tidak terbatas pada kegemaran membaca dan menulis, tetapi mencakup segala daya-upaya manusia mengatasi problem hidupnya.

"Menurut Presiden Jokowi, bangsa kita hanya bisa memiliki posisi tawar di mata bangsa lain jika memerkuat kebudayaan, sedangkan di bidang teknologi kita harus banyak belajar dan mengejar ketertinggalan" tandasnya.

Dia menambahkan bahwa selain mendorong gerakan membaca dan menulis, melalui kegiatan tersebut Nagekeo bisa memperkenalkan hasil kerajinan, karya seni dan potensi alam kepada forum nasional maupun internasional.

Apalagi, sambungnya, setelah itu pada tahun 2020 akan dibangun sebuah gedung Pusat Peradaban Timur Indonesia dengan besar anggaran direncanakan kurang lebih 20 Miliar Rupiah. Hal tersebut menurutnya telah diinformasikan melalui komunikasi empat mata dengan Kepala Perpusnas RI Muhammad Syarif Bando, baik sebelum maupun sesaat setelah kegiatan soft-launching tersebut.

"Lokasi tempat gedung itu mau dibangun adalah di titik nol Nagekeo, yakni di sebelah Selatan Lapangan Berdikari Danga atau yang dulu disebut Kompleks Darurat, atau persisnya di bekas Kantor Camat Aesesa" bebernya.

Dalam suasana rapat yang hangat dan solid tersebut tampak semua kepala perangkat daerah menyambut positif rencana akbar tersebut.

Kasat Pol PP dan Kebakaran, Elias Tae, mengusulkan agar dalam waktu dekat segera dibentuk tim sosialisasi dan sounding ke setiap kecamatan agar semua lapisan masyarakat terlibat penuh dalam festival yang akan melibatkan berbagai stakeholders regional maupun nasional tersebut.

Sementara untuk mendukung hal tersebut, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup, Agustinus Pone, mengusulkan agar segera dibentuk sekretariat bersama sebagai dapur utama persiapan pelaksanaan kegiatan.

Rapat koordinasi direncanakan akan kembali digelar setelah liburan Paskah usai.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Dua hari terakhir suasana Kota Mbay berubah lebih ramai dari biasanya. Beberapa hotel penuh terisi. 
 
 
Pasalnya, sejak Rabu (20  Maret 2019), Nagekeo menjadi Tuan Rumah kegiatan Rapat Koordinasi Teknis Sektor Perhubungan Tingkat Provinsi Nusa Tenggara Timur. Datang dalam kegiatan ini para pejabat pusat maupun provinsi. Di antaranya,  staf ahli Kementerian Perhubungan Bidang Energi Lingkungan Teknologi, Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi NTT, Kadis Perhubungan Provinsi NTT, Staf khusus Gubernur NTT, Sekretaris Dinas Perhubungan Provinsi NTT, Wakapolres Ngada, Dandim 1625/Ngada, Kepala Kejaksaan Negeri Bajawa, Ketua Pengadilan Negeri Bajawa dan utusan dari 22 kabupaten/kota. 
 
 
Pada hari pertama kedatangan mereka, para tamu VIP dijemput dari Bandara Hasan Aruboesman Ende dan diterima Bupati Nagekeo, Johanes Don Bosco Do, di rumah jabatannya. Kemudian bersama bupati, rombongan itu bergerak menuju Aula Setda Nagekeo untuk bergabung dengan perwakilan dari 21 Kabupaten dan 1 Kota di seluruh Provinsi NTT yang sudah menunggu untuk acara Gala Dinner. 
 
 
Untuk menghormati tetamu istimewanya, Bupati Don menyuguhkan tarian penyambutan spesial dari Sanggar Kreatif SMPS Hanura Danga dari ruang lobi hingga ke panggung pentas. Malam itu semakin spesial karena, tidak seperti biasanya, menu makanan yang disajikan sepenuhnya lokal dan non-beras dalam wadah hasil kerajinan rakyat Nagekeo sendiri, wati. 
 
 
Bupati Don menyapa para tamu yang mengisi meja-meja bundar yang tersedia dengan kata sambutan singkat. Ia menjelaskan visinya dalam membangun kepariwisataan daerah yang sangat membutuhkan dukungan sarana transportasi darat, laut maupun udara. 
 
Ia mengutarakan tekadnya untuk menjadikan Mbay sebagai gerbang utama (main gate) bagi pariwasata daratan Flores - Lembata (Flores Mainland).
 
Sementara itu, bertindak selaku tamu kehormatan, Staf Khusus Gubernus NTT, Prof. Daniel Kameo dari Universitas Duta Wacana Kupang, mengatakan bahwa NTT, khususnya Nagekeo, memiliki semua potensi untuk mewujudkan mimpi itu. 
 
 
"Asal kita bisa mengubah mindset dan berjuang keras melawan stigma sebagai provinsi yang miskin, "katanya. Karena hal itu, menurutnya, merupakan penyebab utama yang membuat daerah sulit majudan bersaing. 
 
 
Keesokan harinya atau tepatnya kemarin Kamis (21 Maret 2019),  bupati mengajak rombongan VIP meninjau lokasi tambak garam Waekokak,  Bandara  dan Pelabuhan Marapokot. 
 
 
Melihat langsung prospek pengembangan transportasi, baik darat, laut maupun udara, dari dekat, Staf Ahli Kementerian Perhubungan, Prasetyo Boeditjahjono,  mengaku kagum terhadap potensi yang dimiliki Nagekeo.  
 
"Sayang kalau semua ini tidak cepat diurus, Pak Dokter. Dengan posisi geostrategis yang ada dan panorama alam sabana yang eksotik, masyarakat Bapak seharusnya bisa segera dibantu keluar menuju perubahan besar, "ungkapnya tulus.
 
 
Saat berpisah di teras Hotel Pepita kembali ke Jakarta, berulang-ulang Staf Ahli tersebut berjanji kepada Bupati untuk memberikan segala dukungan dalam mewujudkan pembangunan bandara dan pelabuhan, jika semua persyaratan terpenuhi. 
 
 
Sementara para peserta dari semua kabupaten/kota terus berada di Aula Pertemuan. Rapat yang bertemakan: "Peran Transportasi dalam Mendukung Konektivitas dan Keterpaduan antar Moda dalam Pengembangan Kepariwisataan di Provinsi Nusa Tenggara Timur" itu dipadati  dengan berbagai agenda dan  berlangsung sehari penuh pada Kamis, 21 Maret 2019 di  Ruang Pertemuan Hotel Pepita. 
 
Menurut Kepala Dinas Perhubungan, Alex Jata, salah satu agenda menariknya adalah perjalanan wisata para peserta menuju 17 Pulau Riung Kabupaten Ngada melalui jalur laut.
 
"Pada Jumat (22 Maret 2019) pagi, rombongan akan bergerak menuju Riung dan sebelumnya melintasi obyek wisata Nagekeo, Pulau Pasir Rii Taa menggunakan perahu motor, "sebutnya.
 
Kata Alex, hal itu membuktikan bahwa Pemda Nagekeo serius mewujudkan visi pariwisata daerah, di mana Mbay dijadikan sebagai pintu gerbang yang menjual paket-paket wisata daerah-daerah lain se-Flores-Lembata.
 
Sebelum perjalanan wisata tersebut, Rakornis telah ditutup secara resmi oleh Kadis Alex, mewakili Bupati Nagekeo, pada malam harinya.
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1  2 
  •  Next 
  •  End 
Page 1 of 2
Copyright by Kominfo Nagekeo Pemkab Nagekeo